Astula dan Waktu (Revisi)~

 

Ubud - Pamijahan (bersama Azzam)

~

Aku Anak Indonesia
Anak yang Merdeka
~
Satu Nusaku
Satu Bangsaku
Satu Bahasaku
~
Indonesia
Indonesia
Aku Bangga Menjadi Anak Indonesia
~

Langkah kaki semakin sukar untuk dipapah
Nafas terengah dengan mata yang mulai memerah
Perjalanannya cukup jauh, namun masih tak tentu arah
Cukupkah..!? 
Cukupkah semua ini untuk bahagia

Anak kecil itu sekarang sudah tak lagi sendiri, selalu saja ada yang hilir mudik berganti menghampiri, namun di setiap saat kedatangan mereka itulah, hatinya akan mulai mendadak gelisah.
Dia tak tahu dan bahkan sama sekali tak mengerti akan arti sosialisasi, satu yang ia pahami dalam hidupnya, hanyalah dia yang ada dan kelak akan mati.

Hidupnya seakan sudah diujung tanduk, semua pintu neraka seolah sudah terbuka lebar untuk dilewatinya, dalam hatinya, tentu saja rasa takut dan gugup sudah sering menemani, tapi rasa dari setiap bisikan orang yang pernah mengunjunginya di beberapa saat ke belakang ini, seolah memberi banyak arti di tengah kerisauan tersebut, bak mentari yang mulai menunjukkan kilauan sinarnya setelah satu suntuk malam yang berkepanjangan.
Semua bisikan itu berkumpul dan menggumpal menjadi sebuah cahaya, terang dan cukup menyilaukan untuk selalu dilihatnya, dan pada satu waktu, ia pun pernah berhasil mendapat izin untuk menengok kondisi gumpalan cahaya tersebut.

Lullaby begins .......~

As: "Surga....?"

Ia melihat beribu keindahan yang nampak dan tentunya kasat mata di dalam cahaya itu, dia melihat sekumpulan wajah tak dikenal tengah tersenyum tulus padanya, dia buta! otaknya mendadak tidak bekerja, yang membuatnya sama sekali tak tahu bagaimana harus membalas setiap senyum yang ada.

Sampai pada akhirnya, sorot kilaian cahaya yang menyilaukan terpendar dari arah tengah gumpalan, dan dan jeda beberapa tarikan nafas... muncullah sebuah siluet sosok yang berdiri anggun di tengah gumpalan tersebut, dan perlahan menghampirinya.
Wujudnya samar belum terlalu jelas untuk terlihat, wajar saja... sisa-sisa pendaran cahaya yang menyebar ke sekitar masih membuat pandangannya kabur tak dapat mengukur.

Selang beberapa saat, sosok tersebut sudah berjarak hanya beberapa langkah saja dari hadapannya, sedikit terlihat jelas bahwa sosok itu berperawakan gadis muda, tingginya tak jauh berbeda dengannya, wajah cantiknya memamerkan senyum manis yang tak pernah ia lihat sebelumnya, semakin tipis jarak antara mereka berdua, sosok gadis itu semakin menampakkan keanggunannya, apabila aura seseorang bisa dikategorikan dengan sebuah rasa, sangat manis tentulah akan menjadi jawabannya.

Daya magis yang tercipta dari kejadian tersebut pun secara spontan membuatnya bergumam.
As: “Diakah sosok dewi fortuna yang biasa ada dalam cerita? entahlah...”
Kehampaan pikiran yang sedang dirasa sebelumnya, sedikit demi sedikit mulai memudar, tanpa sadar, gadis manis itu pun kini sudah berada tepat di hadapannya.

Aq: “SelamArt pagi Astula :D” suara yang begitu halus, bersamaan dengan bibir merahnya yang merekah saat berbicara.
Astula: “...........!!?” anak itu mematung terpana, belum bisa mencerna apa yang sebenarnya ada di hadapannya.

Aq: “Apakah kamu tidak bahagia dengan kehadiranku ?” senyumnya sedikit surut, dengan sudut mulut yang sedikit diturunkan, namun siapapun bisa melihat bahwa gadis tersebut hanya sedang menggoda dengan ekspresi kecewanya.
Astula: “Ka... kamu siapa ?” jawabnya sambil terbata. Ternyata tanya sang gadis malah dibalas dengan sebuah tanya.

Aqila: “Aku Aqila!” -  “Aku selalu mengunjungimu saat kau terlelap” kali ini senyuman yang Aqila keluarkan nampak lebih tulus.
Astula: “Aku tak tahu... mana mungkin aku bisa sadar saat aku terlelap!” mencoba menyanggah kesaksian yang diucapkan oleh Aqila.

Aqila: “Itu tidak benar, Astula!~ bukan hanya saat terlelap saja kamu tidak sadarakan tetapi hampir di setiap waktumu, kamu lewati dalam ketidaksadaran”
Astula: “Apa maksudmu ? aku semakin tidak mengerti”

Aqila: “Baiklah tidak apa-apa... karena memang bukan hanya kamu yang menjalani waktunya seperti itu”
Astula: “Apa maksudmu?” Astula masih dalam kebingungannya.

Aqila: “Iyah... kamu bukanlah satu-satunya manusia yang menjalani waktunya dalam ketidaksadaran, masih banyak di luar sana yang sama tidak sadarnya sepertimu dalam menjalani waktunya” nada ucapannya terkesan mengejek bagi Astula (atau mungkin hanya Astula saja yang menangkapnya begitu)
Astula: “Argh... apa maumu !” ia semakin geram dengan jawaban demi jawaban yang justru membuatnya semakin larut dalam pusaran pertanyaan.

Aqila: “Kamu itu manusia, Astula... :D kamu tidak boleh berjalan di atas waktu, saat kamu tengah tak sadarkan diri”
Astula: “.................” Astula terdiam, entah menunggu lanjutan kalimat Aqila, atau dia mulai menemukan titik terang dari semua percakapan sejauh ini.

Aqila: “Kamu harus mengenal dirimu, siapakah dirimu, untuk apa kamu ada, mengapa kamu hidup, dan untuk apa kamu hidup, lalu... untuk apa ada sebuah keharusan bagi manusia untuk mati ?”
Astula: “Kamu..... !?”

Perlahan Astula mulai tersadar dengan arah pembicaraan ini, terlebih setelah dilontarkan pertanyaan-pertanyaan singkat terakhir dari Aqila, yang mana deretan pertanyaan-pertanyaan itulah yang sering berlalu lalang di dalam pikirannya belakangan ini.

Aqila: “Kenapa ? iyah inilah aku... aku adalah hatimu !”
Astula: “........”  kali ini, diamnya Astula bukanlah karena rasa bingungnya, namun karena perasaan takjub akan banyak hal-hal, khususnya yang terjadi pada momen ini.

Aqila: “Aku adalah hati kecilmu, yang selalu mencoba untuk menggerakkan jiwa raga serta sukmamu, yang mana belakangan ini... sangat sering berjalan-jalan entah kemana sebenarnya arahnya”
Astula: “Lantas kenapa kamu baru muncul sekarang ? kenapa kamu tidak membantuku tersadar sejak awal”

Aqila: “Hidup yang kamu jalani itu milikmu, Astula... bukan aku! namaku Aqila pun karena keinginanmu yang kulihat dari daftar nama hati kecil ini”
Astula: “Apa maksudmu?” baru saja berhasil untuk sedikit tersadar dengan semua kejadian ini, kali ini ia kembali dibuat bingung dengan pernyataan terakhir Aqila, atau mungkin lebih tepatnya sebuah langkah penolakan dalam batinnya untuk sepenuhnya sadar.

Aqila: “Semua yang ada di sekitar waktumu adalah kamu, kamulah yang mengadakan dan meniadakan mereka semua. Nama, wujud, serta semua yang ada di sekitarmu itu, adalah gambaran yang harus dan telah kamu buat sendiri. Berjalanlah terus diatas jalanmu, aku beritahu sejak awal bahwa terlalu banyak ketidaksadaran yang berlalu di jalanmu ini, namun kau memanggilku karena saat ini rasa penasaran dan rasa inginmu untuk mengenal dan mengerti semua keadaan semakin besar”
Astula: “.....” Astula masih menyimak dengan khidmat.

Aqila: “Sebagaimana perkataanku di awal, kenali dirimu dan semua yang ada, lalu jalani waktumu ini dengan cara yang telah kamu kenal dengan matang sebelumnya. Sebuah arti dari benar dan salah hanyalah sebuah penilaian dasar dari setiap perilaku yang dilakukan manusia dari sang Tuhan, tak perlu mempermasalahkan keabsahannya, karena itu adalah masalahNya. Cukup isi pikiranmu dengan butir-butir konsep dasarnya saja, lalu cukup jalani untuk kau kenal dan kenali untuk kelak kau jalani”
Astula: “Ah..... Sial!” Astula mulai sadar dengan kesalahan langkah yang dia ambil selama ini.
Jalani untuk Kau Kenal dan Kenali untuk kelak Kau Jalani
Aqila: “Aku selalu disini... aku bersamamu di setiap waktu, kau gak akan pernah sendiri, jika dan hanya jika kamu yang menciptakan rasa itu sendiri, selalu ada yang akan bersamamu, rasa keterpurukan dalam menjalani waktu inilah yang terkadang membuatmu seolah merasa sendiri, terkurung dalam ruangan gelap tak berdaya.”
Astula: “Cukup!"  terdapat jeda dalam penekatan kata cukup yang ia lontarkan,... "Terima kasih, Aqila~, suara terdalam hatiku yang belakangan ini sering kuabaikan, terima kasih...”

Aqila: “SelamArt tinggal dan SelamArt datang di waktu yang indah sementara dan kadang-kadang ini, Astula! Aku selalu berharap akan pemandangan yang indah dari tepian sudut hati kecilmu ini, bukan berarti hanya hal-hal indah yang kutunggu, apapun aku tidak masalah, karena pada semua saat itu, kamulah yang sebenarnya bermasalah... Semoga kamu bisa menjalani amanah hidup ini semakin baik dan penuh warna :D” ucapan terakhir Aqila sebelum perlahan ia mulai menghilang, bak asap yang terhembus angin, secepat itulah momen ini terjadi dan berlalu.

Astula pun terjaga dari lamunannya, kemudian berdiri sambil tersenyum dan kepalan tangannya yang ia kencangkan, ia pun berlari menuju perkampungan lingkungan rumahnya, berteriak girang seperti si gila, namun hebatnya... saat ini ia sungguh bahagia....

-selesai.

-DeeZain-

- Rumah Dazhu Depok - 19 Juni 2017 - 
- Revisi di Kamar Derita - 24 Desember 2025 -
Ini versi lama dengan beberapa kata yang kurang pas dan kesalahan ketikan~ hahah
"Astula dan Waktu"

Ugh~ 8 tahun sudah semua ini berlalu~ sungguh tak tahu malu aku saat ini yang ternyata masih sering saja mengabaikan Aqila.
Reactions

Post a Comment

0 Comments