Ternyata Cinta
Ternyata benar, Cinta tidak datang dari Mata, melainkan dari Hati.
Mata hanyalah jendela yang menunggu isyarat, sementara Hati adalah tempat pertama lahirnya rasa.
Saat Hati mulai berkata, “Aku merasa nyaman bersamanya,” atau bahkan sekadar, “Aku ingin kembali mendengar suaranya,” sejak saat itu benih Cinta perlahan tumbuh. Tidak tergesa-gesa, tidak selalu besar, namun cukup untuk mengubah cara seseorang memandang dunia.
Lalu Mata mulai memilih.
Memilih untuk lebih mudah menangkap kebaikan dibanding kekurangan.
Memilih untuk lebih lama memperhatikan dibanding mengabaikan.
Dan tanpa disadari, seluruh diri perlahan ikut terlibat di dalamnya.
Bagi seorang Pria, rasa nyaman terkadang lahir dari hal-hal sederhana.
Dari tenangnya hati setelah lelah menghadapi dunia. Dari hadirnya seseorang yang mampu menghargai usahanya, meskipun tidak selalu melihat seluruh perjuangannya. Kadang, dukungan kecil dan perhatian sederhana sudah cukup menjadi alasan untuk kembali kuat menjalani hari.
Sementara bagi seorang wanita, rasa nyaman sering kali berakar pada rasa aman.
Bukan sekadar aman secara fisik, melainkan aman secara batin. Aman untuk bercerita, aman untuk bersandar, aman dari kebingungan yang selama ini dipikul sendiri.
Ada ketenangan tertentu ketika seorang wanita merasa bahwa dirinya tidak sedang menghadapi hidup sendirian.
Namun semakin dipahami, Cinta ternyata tidak pernah bisa berdiri hanya dengan satu orang.
Ia selalu membutuhkan kata “saling” sebelum setiap tindakannya.
Saling memahami.
Saling menghargai.
Saling menjaga.
Saling mengerti keadaan satu sama lain, bahkan ketika keadaan itu tidak selalu mudah dijelaskan.
Karena pada akhirnya, hubungan yang bertahan bukan dibangun oleh perasaan yang besar semata, melainkan oleh dua manusia yang sama-sama ingin tetap tinggal.
Cinta juga berbeda dengan sedekah.
Dalam sedekah, memberi berarti rela melepaskan tanpa mengharapkan balasan apa pun. Sementara dalam Cinta, memberi tetap membutuhkan timbal balik, bukan sebagai bentuk perhitungan, melainkan sebagai tanda bahwa apa yang diperjuangkan benar-benar dihargai.
Sebab manusia, sekuat apa pun dirinya mencintai, tetap memiliki hati yang ingin diterima, dihargai, dan dipeluk kembali oleh usaha yang setara.
Mungkin karena itulah Cinta bukan sekadar tentang memberi seutuhnya.
Cinta adalah tentang dua manusia yang sama-sama belajar menyerahkan sebagian hidupnya, tanpa saling menjadikan pengorbanan sebagai perlombaan.
Dan barangkali, bentuk Cinta yang paling dewasa bukanlah tentang siapa yang paling sempurna untuk dimiliki.
Melainkan tentang siapa yang tetap memilih bertahan, setelah mengetahui bahwa manusia yang dicintainya juga penuh luka, takut, ego, dan kekurangan.
0 Comments
Monggo Dikomen Pabila Berkenan~